Kehidupan sore
mencoba menyapaku dalam hening dan sunyinya alam semesta. Gurauan murai
penyambut senja telah berlalu dalam sebuah mimpi pujangga. Tapi, apa boleh buat
jika pujangga tak lagi berperi dalam sepi ini? Mungkin dunia hanya tinggal
sunyi dalam mimpi. Pernahkah gelap merubah warna hari? Sehingga aku tak berpikir
untuk kedua kalinya. Sedih tak mungkin bisa terbagi. Dalam bayang perjalananku,
aku terhenti pada batu besar yang memulai langkah hidupku. Aku tak mungkin bisa
hidup dalam kekesalan ini.
Dalam hembusan angin yang sejuk ini
aku memulai sandiwara. Bermain dengan kata memuja sang mentari. Sungguh bumiMu
tak seperti dulu lagi. Dia telah menumbuhkan sejuta misteri dalam dunia yang
tak terbagi. Aku bermenung sendiri dalam kabut suci. Separah apapun negeri akan
tetap ku jalani dengan kasih suci.
Beribu bayang dalam jutaan hamparan
lereng yang menghijau. Aku terpaku pada gunung-gunung yang terhampar hijau.
Berbentuk bukit-bukit penuh makna. Aku berjalan dalam kesalahan hidup yang
merana. Sungguh, hari ini sangat bersahaja. Mungkin aku lupa dengan secepatnya.
Perlu aku sampaikan pada mentari
sore yang menguning, aku ini adalah jiwa yang tegar. Tahan api dan panasnya
mentari membakar siang. Mungkin sajak-sajak misteri tak lagi dapat aku
sembunyikan. Aku akan teriakkan pada petang yang segera membayang.
Oh... Sungguh bisa engkau bermain
drama. Membuat tubuhku tak mau bergerak dari singgasana. Berhenti pada sebuah
kalimat ajaib, membuaikan lagu dari hirupan sunyi. Jari-jari ini membuahkan
kata yang tak berperi, nasibku sudah dalam lindungan rindu. Kapan kau akan
membuatku tersenyum? Aku akan menunggu nasibku yang kaku.
Seusai cintaku direnggut orang tak
berperilaku, aku sengaja menumpang rindu pada pohon kecil yang melindungiku. Mungkin
sajak-sajak ini tak lagi bisa mengubah hari, sampai kau tega membuatku sakit
hati. Perjanjian sunyi tak lagi aku hiraukan, akan ku petik dalamnya luka di
hati. Kau bisa sampai pada kumpulan awan yang memandangku ngeri. Sungguh kau
tak lagi punya cerita hati.
Dalam kelam bercampur dengan seribu
bayangmu, aku berlutut menyampaikan keluhan suci dari langit semu. Aku ini
insan yang selalu menunggu dan menunggu. Bisakah kau merasakan detakan jam
berlalu untukku? Aku akan hitung setiap menit kau terlambat menghampiriku.
Mengkalkulasikan kerugian waktuku dalam detik yang berlalu. Mungkin kau akan
malu pada duniamu. Aku akan tersenyum membisu menahan sendu.
Kata-kataku tak lagi bisa ku ubah
menjadi kepingan-kepingan ngerimu. Aku akan selalu tegak berdiri menjumpai
setiap helai nafasmu. Bisakah kau menjumpai petang yang telah lama datang? Ke
hati sejukku ini, aku berhutang budi. Ku tak mau sendiri lagi esok pagi.
Segumpal kata marah tak mudah aku sembuhkan pada gilanya hari ini. Aku telah
dimakan gila dari tadi.
Malu aku pada waktuku yang terbuang,
demi menunggu kedatangan yang tak berujung. Aku ingin pulang tapi aku tak mau
ini jadi serpihan kecewa di hatimu. Tak ku tuntut harga diri ini memuji, tapi
aku telah terlanjur memaki. Mudahnya aku terlempar pada karang yang terbentang,
membuatku pasrah pada angin yang menusuk kulitku. Kapan lagi kau akan menusukku
dalam sepi? Prosa ini jadi pengantar hatiku yang sakit karenamu. Tak mau lagi
aku mengantarkan luka lewat jari manis sang penyair. Aku berusaha untuk menyamadengankan
hati ini dengan mendung yang akan bergelayut. Terima kasihku untukmu yang telah
membuatku menunggu. Akan aku hargai kedatanganmu dalam setiap helai hidupku.
Perpustakaan Bung Hatta, 18 November 2011
Martha Syaflina
(Menunggumu membuatku membuahkan sejuta kata)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar