Lembut mengatur suasana damai
Dalam mimpi di alam permai
Inginku menyemai
Bibit padi yang akan tumbuh ramai
Sosokmu yang kaku mengumpat jalanan
Menerbangkan sehelai tisu putih
dalam ingatan
Ada bayangmu dalam coretan
Semoga ku bisa menyimpan
Kuda-kudaku telah berlari mengejar
Ketika aku datang untuk belajar
Akulah orang yang tak pernah
bersabar
Dalam menggali ilmu sumur yang besar
Sempat dalam ingatan tertulis
Untaian indah garis-garis
Semu beterbangan memiris
Aku tak mau hanya jadi sehelai
kertas bertulis
***
Gertakan sebuah senyum
Indah menyingsing kalbu
Gading mesti retak
Sekeras apapun kekokohannya
Dulu nestapa, kini indah, besok apa?
Gertakan sebuah senyum bahagia itu
kini terulang
Tumpang tindih tampak wajah nyata
Ini firasat, sebelum semakin jauh
Berhenti!
Jangan kau dekati lagi
Tak mau kau kecewa karena watak ini
Cukup ku kenal kau lewat alunan
arusmu
Begitu deras, bahkan aku terbawa
oleh alunan itu
***
Pohon pun tak mau menyisakan daun
Ketika musim gugur menyapa hati yang
kaku
Kau telah terbawa oleh senyum yang
anggun
Mungkin ku kau bawa dalam sejuta
lirikan semu
Mungkin ku tak bisa lagi berlari
Menaiki tebingmu yang kokoh
Tapi aku akan coba berdiri
Menghadapmu tanpa roboh
Malam pun bersemi jadi suka
Dalam hirauan juga gurauan kata
Gertakan senyumnya seakan-akan
membuka dunia
Aku akan menuju ujung senja
Bisaku tangkap sulitnya sapaanmu
Tapi ku mau kau ringan pada matamu
Iringi langkahku dalam ingatanmu
Ku hanya bisa jadi sebuah kenanganmu
Bukittinggi dan Parabek, 15 November 2011
Martha Syaflina dan M. Arsyad Fuadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar