“Dek, siapa aja temen-temenmu yang enak diajak buat
penelitian untuk tugas biologi kakak?” tanya Kak Ami lewat pesan singkatnya di handphoneku.
“Siapa
ya, Kak? Oh ya, yang udah kakak ajak siapa aja?” aku balik bertanya.
“Yang
udah itu Fifi, Fira, Wira dan kamu. Trus sapa lagi ya, Dek?” balasnya.
“Susah
juga buat nyebutinnya, Kak! Lebih baik kakak bawa aja penelitiannya ke kelas,
ntar pasti ada deh yang mau diteliti. Sip!” kataku membujuk.
“Oke
deh, Dek! Makasih ya!” kata Kak Ami lagi.
“Ya deh,
Kak!” balasku.
Pesan
singkat itu pun berakhir dalam sekejab. Aku kembali bersiap-siap mandi dan
berpakaian sekolah. Setelah lama aku bercerita lewat sms dengan Kak Ami. Aku
sadar juga jam telah menunjukkan pukul 06.05 WIB. Saatnya untuk berangkat
sekolah, tapi aku telah terlambat. Ya sudahlah, kan belum terlambat masuk
kelas.
Wow!
Dingin banget pagi itu. Aku meriang kedinginan. Emang bener sih, bulan ini
musim dingin. Tapi, kan ini udah diakhir bulan. Musim sekarang sering
berubah-ubah. Aku kembali memakai jaket hitam sederhana milik adikku. Dia
kebetulan tidak memakainya. Sungguh hangat. Nyaman sekali.
Sesampai
di sekolah, aku disapa Yeni yang kebetulan dia nggak terlambat untuk datang ke
sekolah. Sekolah yang sungguh sejuk, terletak di dekat Ngarai Sianok objek
wisata dambaan orang Bukittinggi sekitarnya. Aku kembali menyambut senyum Yeni.
Ada guratan bahagia yang terukir dari wajahnya saat itu, entah mengapa, aku
tidak tahu. Mungkin pagi itu aku tidak dilanda kantuk lagi.
“Ris, ada tugas nggak?” tanya Yeni santai.
“Nggak
rasanya. Palingan nanti juga dikasih tugas sama gurunya,” jawabku.
“Hmm.
Eh, aku lagi seneng lho! Hehe...,” cengengesan Yeni.
“Ciee..ada
apa tu?” ledekku datar.
“Aku
udah punya cowok baru. Haha,” tertawanya lepas juga.
“Ha?
Siapa tu?” tanya ku heran.
“Namanya
Adi. Mau tau nggak?” pancingnya.
“Anak
sini atau sekolah lain?” tanyaku penasaran.
“Anak
sini kelas XII IPS 5, dia baik banget!” pujinya kagum.
“Ya
elah! Kamu ini ada-ada aja. Oh ya, nanti ada penelitian dari kakak kelas XII
IPA 1, kamu ikut ya!” ajakku spontan.
“Penelitian
apa tu?” Yeni penasaran.
“Aku
juga nggak tahu pasti tentang apanya. Kita liat aja nanti. Oke!” kataku mantap.
“Oke
deh!” jawabnya.
Peserta
didik pun berkeliaran memenuhi lapangan sekolah juga berlalu lalang masuk kelas
mereka. Ada yang memanggil teman-temannya, ada juga yang lagi cerita-cerita.
Berbagai kegiatan pagi pun dilakukan dengan santai. Kebetulan kelas aku lagi
bebas tugas jadi agak santai. Aku kembali disibukkan oleh handphoneku yang berdering, ternyata ada pesan singkat dari Dian
dan Irsyad. Dia mengirimi aku puisi yang akan aku balas.
Bel
masuk pun berbunyi. Peserta didik SMAN 4 Bukittinggi pun menuju lapangan
upacara bendera yang letaknya di
lapangan atas dari kelas aku. Aku mengajak teman-temanku untuk menuju lapangan.
Upacara dimulai dengan pengaturan barisan oleh bapak wakil kesiswaan. Susah
juga untuk mengatur barisan itu. Sampai-sampai beliau berteriak keras.
Tak lama
berselang, hanya satu jam. Upacara selesai juga dengan diakhiri pembacaan doa.
Aku bergegas memasuki kelas karena lelah berdiri saat upacara. Aku ingin
istirahat. Handphoneku berdering
lagi. Dari Kak Ami.
“Dek,
kakak ke kelasmu sekarang ya? Mumpung guru-guru rapat,” kata Kak Ami.
“Iya
deh, Kak!” balasku.
Kak Ami
pun datang beserta tim peneliti sederhananya. Dia menyerahkan lembaran
penelitian kepadaku dan juga teman-temanku. Dia juga mengarahkan bagaimana cara
mengisi lembaran angket itu. Ribet juga tapi asyik. Kelasku pun sempat gaduh
dengan kedatangan tim penelitian tersebut karena mereka awalnya bingung dengan
angket tersebut.
Tepat
lima belas menit lamanya untuk menyelesaikan penelitian itu, Kak Ami sedikit
lega. Hanya saja tinggal sidik jari aja untuk menentukan pola jari tangan orang
yang diteliti supaya diketahui jenis apa orang tersebut. Aku pun menyerahkan
angket itu secara perlahan.
“Ini,
Kak! Udah selesai. Ada lagi, Kak?” tanyaku senang.
“Ya!
Udah kok. Nggak ada lagi. Makasih ya, Dek!” kata Kak Ami.
“Iya
deh, Kak!” kataku.
“Oh ya,
ini belum sepenuhnya juga sih selesai, masih ada satu tahap lagi. Sidik jarinya
belum karena bantalan stempelnya belum ada. Jadi nanti kakak kesini lagi ya
buat minta sidik jarinya,” kata Kak Ami menjelaskan.
“Oke,
Kak! Dengan senang hati,” balasku tersenyum.
Duh!
Udah selesai juga guru-gurunya rapat. Saatnya untuk memulai pelajaran.
Pelajaran pertama yaitu biologi. Huff! Pelajaran yang membosankan bagiku karena
bikin ngantuk. Guru biologinya pakai infokus jadi kita hanya nonton aja sampai
ngantuk. Membosankan juga pagi itu.
***
Sudah
dua minggu dari penelitian tersebut, Kak Ami pun datang lagi untuk meminta
sidik jari teman-teman kelasku. Aku dapat urutan kelima. Dengan santai aku
menekankan jari-jariku ke bantalan stempel yang terletak diatas meja belajar
kosong. Kebetulan saat itu, kami mau ujian semester ganjil yang akan mengambil
nomor ujian. Sebelumnya juga wakil sarana prasarana menyampaikan bahwa
meja-meja itu akan dibawa ke kelas atas untuk diatur. Jadi tak salah kelas
berantakan saat itu. Kami pun berkeliaran untuk membantu menyelesai tugas
penelitian Kak Ami dan timnya.
“Dek,
kamu lagi. Sinilah! Kakak ajarin gimana caranya,” kata Kak Ami.
“Eh,
iya, Kak!” jawabku agak kaget dengan panggilan itu.
“Gini,
kamu tekan kesepuluh jari-jarimu satu per satu ke bantalan stempel ini, lalu
kamu tekan lagi ke kertas yang udah ada kolomnya disini,” kata Kak Ami
menunjukkan angket penelitian.
“Oh
gitu, Kak! Aku coba ya,” kataku.
“Iya
deh! Jangan terlalu ditekan ya, ntar garis-garis yang ada pada jarimu itu nggak
kelihatan,” kata Kak Ami mengingatkan.
“Iya,
Kak!” kataku.
“Sip!”
balasnya mantap.
Selesai
sidik jari, Kak Ami pun melihat pola jari tangan yang ku miliki. Aku pun
meminta penjelasan yang mantap dari jawaban yang diberikan Kak Ami, tapi Kak
Ami masih menyembunyikannya, aku penasaran dan ingin bertanya penuh padanya.
Tapi sayang, dia lagi sibuk. Dia hanya bisa memberitahu aku pola jari tanganku
aja.
“Risa,
sini kakak liat polanya!” panggil Kak Ami.
“Iya,
Kak! Nih!” kataku.
“Worl,
Arch, Arch, Arch, Arch dan Luph. Hmm... Nggg...,” Kak Ami berkata ragu.
“Ada
apa, Kak? Apa maksudnya yang kakak sebutin itu?” kataku penasaran.
“Nggak!
Nggak usah dipikirin ya. Nggak ada apa-apa kok! Santai aja!” katanya tersenyum
padaku.
“Hmm...
Ya udah deh!” kataku.
Aku semakin
heran. Saat itu aku juga akan remedial kimia. Aku diajak temanku untuk membahas
soal-soal ulangan yang kemaren. Aku tidak konsentrasi lagi. Pikiranku kacau
karena aku masih heran dengan tersembunyikan makna buruk dibalik pola Arch yang
aku dapatkan sebanyak itu. Aku pun mencoba untuk mencari-cari informasi tapi
nggak bisa. Yang hanya bisa menjelaskan hanya Kak Ami dan satu orang temannya
lagi. Mereka tidak mau memberiku penjelasan detail. Katanya cuma tidak apa-apa.
“Kak,
emang apa sih artinya yang tadi tu?” kataku balik bertanya.
“Nggak
ada apa-apa kok! Nggak usah dipikirin deh! Buang-buang tenaga aja,” katanya
kembali mencoba memudarkan penasaranku.
“Oke
deh! Ntar aku cari aja di internet apa artinya. Kan aku penasaran,” kataku
mengambil keputusan.
“Iya
deh! Terserah kamu!” kata Kak Ami pasrah.
Tiba-tiba,
seorang temanku berteriak keras bahwa dia mendapatkan pola worl dalam jumlah
yang banyak. Dia tersenyum. Aku pun semakin heran. Tapi, aku akan dapat
jawabannya setelah ini.
“Huiss!
Worlnya kesepuluh jari. Pinter banget tuh orangnya,” kata seorang temanku
memujinya.
Temanku
yang dipuji pun senyum-senyum aja sendiri. Aku mendengar dengan seksama dan
jelas bahwa apabila kita mendapatkan pola worl yang banyak, berarti kita pintar
atau penangkapannya bagus. Aku tak percaya dia mendapatkan itu karena nyatanya
dia nggak pernah tuntas untuk setiap ulangan bahkan dia sempat ditegur guru
apabila dia menyontek pas ulangan.
Aku
kembali meneriaki Kak Ami dengan lantang karena aku telah mendapatkan jawaban
dari setiap penasaranku. Aku kesal tapi aku ikhlas dengan hasil itu.
“Kak...
Kak Ami...! Arch itu lemah kan artinya?” tanyaku lantang.
“Iya,
Dek!” katanya sambil mengangguk pelan.
“Oh
itu!” kataku tersenyum.
Aku
kecewa dan mungkin lebih pantasnya disebut tersinggung. Tapi, aku sudah siap
dengan semua itu. Aku berpikir sejenak. Berarti penangkapanku lemah tapi aku
punya tekad dan usaha yang tinggi untuk membuat diriku menjadi juara dan punya
kemampuan yang lebih dan berarti juga aku ini orang hebat karena melawan
kelemahan. Tuhan Maha Sempurna.
Aku pun
menyimpan semua kesakitan itu. Tapi, aku tidak lagi memikirkannya. Aku sudah
tahu siapa diriku dan bagaimana otakku. Aku siap untuk menjalaninya.
***
Sesampai
di kos, aku mengirim pesan singkat lagi ke Kak Ami. Aku katakan semua yang aku
penasaran dari tadi. Aku mohon penjelasan.
“Kak,
kenapa harus malu untuk menyebutkan makna dari pola jari tadi tu. aku memang
lemah tentang itu. Tapi, aku pede-pede aja. Jangan bohongi aku deh, Kak!”
kataku dalam pesan tersebut.
“Eh,
iya, Dek! Kakak takutnya kamu tersinggung dengan hasil itu, makanya kakak nggak
mau kasih tahu. Maaf ya, Dek!” kata Kak Ami membalas.
“Hmm...!
Nggak apa kok, Kak! Santai aja!” balasku.
“Iya
deh!” kata Kak Ami mulai tenang.
Aku
memang sedikit kecewa dan tersinggung tapi aku kan harus mensyukuri kekuranganku
itu dengan usaha dan tekadku untuk bisa berhasil. Aku bisa menjadi sukses
dengan kekuranganku itu. Kelebihanku adalah pemantap jiwa suksesku. Aku yakin
itu tidak akan menggangguku dalam perjalanan hidupku. Aku akan semangat.
Bukittinggi, 10
Desember 2011
Martha Syaflina
(*Penelitian
Sidik Jari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar