Motivation

"Berani Itu Emas" (Mario Teguh)
"Yakinlah! Maka Anda akan Mendapatkannya" (Martha Zhahira El-Kutuby)

Kamis, 19 Januari 2012

Simpati VS Empati

Simpati!
    Ya, kata-kata itu sangat dikenal dalam kalangan remaja yang suka curhat dan cerita-cerita tentang masalah remajanya. Dalam kehidupan ini kita memang perlu untuk bersimpati bahkan untuk merasakan apa yang dirasakan olrh orang lain sebagai kita juga mengerti dengan keadaannya.
    Simpati yaitu merasakan sepenuh hati dan ikut merasakan kesedihan dan kesenangan orang lain atau orang yang bercerita dengan kita sebagai wujud bahwa kita juga mempunyai perasaan yang sama dengan dia. Seperti contoh: kalau teman cerita kita merasa sedih kita juga merasakan kesedihan tersebut lebih mendalam. Apabila dia menangis kita juga ikutan menangis. Maka, itulah yang namanya simpati.
    Simpati ini sangat tidak dibutuhkan dalam proses konsultasi dan bagi konselor sendiri. Apabila konselor sampai bersimpati dengan kliennya, masalah yang diceritakan klien tersebut tidak akan pernah selesai karena kita juga mempunyai penderitaan yang sama dengan dia. Bahkan, pemecahan masalah tersebut juga tidak akan pernah bertemu. Jadi, seorang konselor harus mempunyai empati bukan simpati.
    Empati!
    Empati yaitu merasakan kesedihan atau kesenangan yang dirasakan orang lain tapi tidak ikut berlarut-larut di dalamnya. Dia hanya merasakan saja. Seperti contoh: apabila si klien menangis-nangis dalam menceritakan masalah dan keluhannya, kita juga tidak ikut menangis. Itulah yang dinamakan empati.
    Seorang konselor harus bersifat empati, bukan simpati. Sifat empati ini memang susah untuk ditimbulkan, karena menurut penelitian saya sendiri dan juga saya pernah mengalami, seorang konselor ini biasanya sering terbawa rasa simpati kepada kliennya. Sehingga, klien merasa bahwa masalahnya tidak akan pernah selesai dan malah bertambah berat. Padahal, klien berharap bahwa dia mengeluh kepada kita untuk mencari solusi dengan kita, bukan mencari tambahan dari keluhannya. Bisa-bisa klien tak mau cerita lagi.

    Simpati VS Empati ini bergantung pada perasaan. Konselor harus bisa menyeimbangi semua itu.
Apabila terjadi kesenjangan, kita akan kewalahan untuk menjawab dan membantu klien dalam mencari solusi masalahnya.

Martha Syaflina
Menjadi Remaja yang Tangguh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar